PUISI

 Menjadi Kemacetan



kita lelah dan

mesin mesin tidak tahu bergerak

kau ingin aku menjadi sesuatu


yang ringan dan pandai terbang

aku lebih suka andai bisa menjadi mobil

bertumpuk di belakang pabrik


yang sudah pensiun

atau belukar yang menjadikannya taman

ular dari jendela mobil yang gelisah

tidak ada yang tampak indah bahkan


matahari yang menenggelamkan diri

dan jingga sebagian


hujan sejak lama sudah sial tercatat

di laporan tahunan departemen sosial

selebihnya

memilih sembunyi di sajak siapa penyair itu


dan aman jadi laut

atau langit

atau cuaca tanpa


ada yang mengubah namanya jadi keluhan

kau ingin aku jadi kekasih atau puisi yang tangannya

bisa memijat betismu yang kram

aku lebih suka andai bisa jadi trotoar

atau pohon tua

yang mengajakmu berlari-lari kecil

seperti bocah riang pulang sekolah


kita lelah dan kata-kata dusta

dan kota-kota jauh jatuh


dari layar telepon genggammu yang lelah

kau pandangi

kau sedih seolah semua orang yang kau

kenal tiba-tiba menghapusmu


kau ingin aku menjadi negara

atau hal-hal lain yang gemar berlibur

aku lebih suka andai bisa jadi buku

dongeng yang kau baca di tempat tidur

kau peluk aku

sambil tertawa membayangkan kita

sepasang anak kecil yang selamanya

ku peluk kau sambil membayangkan


lengan kita adalah negara satu satunya

mesin mesin ini tetap bodoh

dan tak tahu bergerak

teleponmu basah dan mati

dan lepas dari genggaman

tidur

atau mungkin maut memasuki tubuhmu

pelan-pelan


matamu museum kupu-kupu

ku lihat mimpi satu demi satu keluar dari

sana

aku

seperti biasa memikirkan cita-citaku

yang selalu

ingin segera berhenti jadi buruh

Komentar